Sunday, September 27, 2020

Cinta bertujuan membahagiakan satu sama lain

Mardigu Wowiek

= 30 Juni 2014 =

  · Jakarta  ·

( Cerita Pagi) "Cinta bertujuan membahagiakan satu sama lain, bukan menuntut satu pihak untuk membahagiakan pihak lain."

Di bulan Ramadhan ini saya teringat dimasa saya masih aktif disebuah perusahaan penjualan langsung. Tadinya hanya iseng2 namun ketika satu tahun di jalani eh ternyata sebagai income sampingan gede juga dapetnya. Hanya 3 tahun saya didunia MLM ini, yaitu amway. Dari tahun 1996-1999. Bukan bisnisnya yang mau saya ceritakan namun sisi lain lagi.

Kita semua tahu bahwa setiap agama memiliki hari dimana semua jamaah berkumpul beribadah. Seperti hari jumat bagi kaum muslim, minggu bagi kristiani, sabtu bagi advent dll. Maka pertemuan mingguan bagi para sales tujuannya sama, mendapatkan siraman rohani, siraman semangat, menyaksikan kesaksian sukses story dari rekan2 sehingga semangat terjaga diatas terus, berjuang menjual.

Namun terkadang jumatan saja kurang bagi kaum muslimin, atau mingguan saja kurang bagi kaum nasrani sehingga untuk memotivasi mereka ber umrah, menapaktilasi perjalanan awal para orang-orang suci. Memodel, memirror sehingga terduplikasi perilaku kemuliaan mereka.

Nah di dunia sales kami melakukan hal yang kami sebut malam apresiasi. Asal mulanya sebenarnya hanya ingin membuat acara dimana semua bisa berkumpul dan semua bisa sharing berbagi. Dan kali ini berangkat dari kegelisahan kami melihat seorang downline bernama Doni…

Dia gigih sekali berjualan kesana kemari, dalam 3 bulan pertama mungkin lebij dari 100 orang dia datangi, dia propek, dia dekati dll. Namun..tidak ada satupun yg close, yang bergabung!. Doni tidak pernah mengeluh sedikitpun, namun kami sebagai up line yang tergerak tersentuh melihat semngatnya. Lalu saya panggil untuk bicara dari hati-kehati, berdua. Doni adalah ex preman, atau mungkin masih bisa dikatakan masih preman saat itu. Rumahnya di kampung makasar bilangan Halim bisa dikatakan tough neighborhood, atau komunitas yg keras. Berantem bisa setiap hari , katanya. Masa lalu doni kelam sekali, keras. Sehingga karakternya kasar bisa dimengerti

Dia bercerita..saya ini dianggap anak setan sama keluarga di rumah . “Anakku cuma 4 orang. Pergi kamu dari sini…..!” itu kata ibu saya mas

Doni diusir dari rumah. Dia adalah anak ke-5 dari 5 bersaudara. Ayahnya sudah tidak menganggap dia sebagai anak lagi. Pulang atau tidak sudah tidak diharapkan lagi oleh keluarganya. Kenakalannya yang menurut orang tuanya sudah diambang batas, membuat dia diusir dari rumah, dianggap tidak ada. Hidup mati sudah tak penting.

Rasa sedih dan sakit hati itu membuat Doni terjerembab lebih dalam dalam kehidupan liar di luar rumah. Itu juga yang membentuk aura preman-nya.

Lalu apa tujuan hidup kamu kedepan, saya bertanya

Saya ingin membahagiakan orang tua saya, saya ingin dianggap anak lagi. Saya kesepian, saya ingin sukses. Saya capek miskin, capek tidak punya teman, capek tidak ada saudara, capek hidup selalu kuda-kuda!

Saya terdiam lama mendengar ceritanya,dari cerita inilah saya mendapat ide. Membuat malam apresiasi. Saya undang seluruh network jaringan saya dan beberapa leader lainnya. Diacara tersebut seseorang di bawa keatas panggung, diberi waktu bicara selama 5 menit tentang perjuangannya dan apa yang telah di peroleh agar tertular kereka2 lainnya. Itu saja intinya. Dan saya harus panggungkan doni!

Bersama beberapa rekan, saya mencari alamat ibu doni. Sampailah saya kerumah tua di daerah padat penduduk di dekat halim. Saya ceritakan bahwa ada undangan buat bapak ibu atas prestasi seorang anak nya. Sang ibu bertanya anak yang mana, semua anak saya merantau. Anak saya empat-empatnya tidak ada dirmah.

Kami yang hadir saat itu miris sekali mendengar kalimat “anak kami empat”, karena kami tau ada lima. Dia tidak menganggap si doni!.

Syukur Alhamdulilah sang ibu bersedia hadir asalkan di jemput. Kami turuti. Ketika diadakan malam appreciation dimana sang ibu datang duduk disamping saya sejak awal acara. Sang ibu bertanya, ini acara apa. Saya menginformasikan ini acara malam penghargaan bu. Sang ibu diam. Setelah puluhan orang mengungkapkan testimoni kesuksesaannya, maka MC menghadirkan ‘surprise’ dengan menampilkan seseorang…

“Berikut akan hadir di hadapan kita, seorang yang ngga pernaha closing, ngga punya downline, tapi terus gigih berjuang…. Anda tau siapa dia…sahabat kita, rekan kita, …nada suara meninggi

Seribuan orang hening. Senyap. Surprise. Karena dikepala mereka sumau tau pastinya orang itu pasti doni. Doni yang selama ini menjadikannya sebagai bahan ejekan. Dan Keheningan kemudian pecah, ketika beberapa orang mulai meneriakkan nama Doni.

“Doni..Doni..Doni…!” diiringi ratusan orang lainnya. Hingga semuanya menyebut nama doni..doni

Saya lihat doni tersentak. Dia tidak sangka di jadikan pembicara, karena yang dia tahu hanya yang sukses saja yang berbicara, dia merasa tidak sukses. Matanya menatap kesana kemari mencari dukungan. Sampai akhirnya dia berada di panggung.

Sang ibu disamping saya gelisah luar biasa..itu doni ya?! Ekspresinya berubah. Menyadari bahwa anaknya menjadi bagian dari malam itu. Menjadi seseorang.

Doni maju ke panggung. Langkahnya mantap.

Doni mulai bicara. Suaranya bergetar. Suasana sangat hening. Bagai di kuburan.

“Saya… berdiri di depan sini, hanya ingin membuktikan kepada orang tua saya, bahwa ada anak kelima mereka yang berusaha untuk tetap hidup, menjadi lebih baik dan paling penting… ingin kembali ke rumah untuk menjadi bagian dari keluarga. Sebenci apa pun mereka kepada saya, saya tetap mencintai mereka.”

Suaranya makin bergetar. Beberapa orang di gedung itu mulai menyeka airmatanya. Beberapa terisak.

“Utamanya buat Ibu saya… semoga Ibu masih punya sedikit saja cinta untuk saya.” Doni mengakhiri testimoninya dan hendak turun dari turun dari panggung.

surprise berlanjut. Lampu tiba-tiba padam. Lampu ‘sorot’ hanya menyinari dua titik. Satu titik ke Doni yang berjalan turun, dan titik satu lagi ke Ibunda Doni yang sedang duduk disamping saya. kemudian saya bimbing sang ibu berdiri untuk berjalan mendekati doni, naik panggung. Doni kaget karena di sorot lampu di hadapnya ada ibunya. Sementara ibunya berjalan tertatih perlahan maju mendekati doni.

Ketika dua titik itu bertemu…. Doni bersimpuh di kaki ibunya. Ibunya membungkuk dan memeluk dengan sangat erat. Pelukan yang merangkul hati. sebuah pengakuan..bu, ibu ..maafin doni bu..doni kangen ibu, doni salah bu. Doni anak ibu anak bapak, doni tobat bu.,doni cape jadi orang susah. Doni mau sukses. Doni mohon ridho ibu, doni mohon ampun dan maaf ibu..terus dia berkata lirih di kaki sang ibu..di saksian ribuan pasang mata dan di dengar jelas sekeliling gedung karena mike wireless nya masih on nyala.

"kamu anakku, Ibu mencintaimu." Ibu juga minta maaf..saya mendengar lirih sang ibu diantara tangisnya

Tak ada kata-kata. Yang terdengar hanya tangisan diringi tumpahan air mata.

Doni dan Ibunya tidak berdua saja menangis. Semua orang di gedung itu pun menangis. Malam yang tak mungkin dilupakan bagi semua yang hadir malam itu.

Kini doni sudah melanglang buana, tinggal di sebuah kota pegunungan di jawa barat dengan usaha pertanian yang luas, gemuk subur badannya sesubur lahanya dan barusan dia sms saya menyatakan..mas selamat berpuasa, semoga ibadah tahun ini lebih baik dan terbaik dari seblum2nya. Saya keinget ramadhan dimalam apresiasi dulu mas… Do'a seorang Ibu yang ikhlas adalah password kesuksesan Doni.

Mengingatkannya pada malam apresiasi yang luar biasa. Rupanya sejak itu, Ibu Doni yang sudah ‘terbeli hatinya’ senantiasa berdo’a untuk kesuksesan Doni. Hati ibu memang tidak bersudut, sehingga mudah tersentuh dari sisi manapun. Sentuhan itu akan membuat hati memancarkan keikhlasan ke alam semesta, dan menjawabnya dengan rupa yang tidak terduga.

Seringkali sekeras apa pun usaha seseorang, tidak menemukan jalan sukses. Sukses memiliki banyak dimensi. Kegigihan saja kadang tidak berbuah sukses, tapi dengan keihklasan seorang Ibu berdo’a, kelapangan pun segera terbuka.# May peace be upon u